001-234-567-8910

5th Avenue Madson, NY758, USA

Get Update on our recent Gadgets & Tabs

Jumat, 25 Desember 2015

1001 Cerita di L-300

Gambar: google.com
Mitsubishi L300 adalah kendaraan populer untuk bepergian dari satu kabupaten ke kabupaten lain di Aceh. Minibus ini terdiri dari empat baris kursi dan berkapasitas 10 penumpang. Kendaraan ini dipilih penumpang karena memberikan layanan door to door,menjemput dari pintu rumah dan mengantarkan hingga pintu tujuan. Dalam satu bulan, saya bisa bepergian hingga tiga minggu ke berbagai kabupaten di Aceh dan L300 adalah pilihan utama saya. L300 ternyata menghantarkan 1001 kisah. Berikut ini adalah sebagian diantaranya.

L300 itu kendaraan paling nyaman & produktif
Sebagai birokrat lembaga bantuan internasional, saya sudah merasakan beragam kendaraan lapangan dari Innova, berbagai sport utility vehicles (SUVs)Land Cruiser hingga Prado. Akan tetapi, saya relatif sulit tidur dalam perjalanan panjang bersama mereka. Kadang saya malah pusing dan mual ketika menaikinya. Entah mengapa, saya justru lebih mudah tidur di  L300 bahkan ketika dulu saya menempuh perjalanan Banda Aceh-Calang melalui jalan berbatu pasca tsunami.

Tidak hanya tempat tidur yang nyaman, L300 juga menjadi tempat produktif untuk membaca. Dalam 5 jam perjalanan Banda Aceh-Bireun, saya biasanya menamatkan satu buku yang kemudian akan bertambah satu lagi dalam tiga jam perjalanan Bireun-Takengon. Saya bisa membaca lebih dari 100 buku selama tahun lalu dan sebagian di antaranya sata tamatkan dalam ratusan jam perjalanan di L300. Begitu nyaman dan produktifnya saya di L300 membuat saya bercita-cita jika suatu hari saya, insyaAllah, menjadi country director lembaga internasional maka saya akan meminta agar L300 menjadi kendaraan resmi kantor kami.

L300 juga bisa jadi tempat yang romantis
Perjalanan dalam L300 dapat berlangsung berjam-jam sehingga ia memberikan kesempatan panjang untuk bertukar cerita dengan penumpang di sebelah. Entah sudah berapa puluh orang menemukan pasangan di L300. Tanyakan kepada sopir dan kenek berapa penumpang yang telah berhasil mereka jerat. Pemandangan sepanjang perjalanan juga dapat menimbulkan perasaan syahdu. Bayangan anda menempuh perjalanan panjang sambil menatap sawah hijau yang membentang luas hingga kaki gunung ketika senja dan gerimis turun di luar sana. Ah, perasaan kita bisa tersesat di sana. Konon, tipe hujan menghadirkan kenangan berbeda-beda bagi penumpang L300: ada hujan deras yang mengingatkan dengan keluarga di rumah, ada gerimis yang menghadirkan kembali masa lalu, rinai di kala senja membawa rindu yang tak kunjung sampai, dan seterusnya. Agar lebih dapat mendapatkan penghayatan yang hiperralis saya senang membaca buku puisi di L300 sehingga Rendra, Sapardi, hingga Djoko Pinurbo telah menemani saya menikmati pemandangan di luar sana. Rasanya mewah betul!

Lagu Kebangsaan L300
Salah satu unsur pembangun suasana di L300 adalah lagu yang diputar oleh pengemudi. Sopir L300 bisa menempuh 8 jam perjalanan dari Takengon ke Banda Aceh atau bahkan 12 jam dari Aceh Tamiang ke Banda Aceh. Untuk membantu tetap terjaga dalam kendaraan yang melaju kencang di gelapnya malam, mereka pun memutar musik keras-keras. Salah satu penyanyi yang paling digemari di L300 adalah mendiang Poppy Merkuri. Apa pun trayek yang anda ambil, lagu kebangsaannya tetap Antara Jakarta dan Penang.Tentu saja dalam keheningan malam, lagu yang paling syahdu adalah Demi kau dan si buah hati. Dalam perjalanan-perjalanan itu, saya sering berharap bahwa kendaraan yang melesat cepat itu memutar musik rock keras. Akan tetapi, harapan tersebut tinggallah mimpi. Pernah suatu malam L300 yang saya naiki dari Calang memutar November rain-nya GnRSayangnya, belum lagi lagu itu selesai, sang sopir sudah menggantinya dengan lagu Wali Band!

Omong-omong tentang Wali. Cerita paling lucu di L300 yang saya tahu berhubungan dengan Wali. Suatu hari pada bulan Oktober 2008, mobil L300 yang menjemput penumpang di pusat kota Banda Aceh terjebak macet. Seorang penumpang muda bertanya kepada sopir, “Kenapa bisa macet sekali?” “Ada Wali di Masjid Raya” jawab sang sopir. “Sejak kapan band boleh konser di halaman Masjid Raya?!”, protes si penumpang. Penumpang lain pun gemas dan berkata, “Wali Nanggroe hai!”

Belajar Empati di L300
Salah satu alasan utama saya memilih L300 dibanding kendaraan kantor adalah untuk mempersingkat waktu kunjungan ke lapangan. Sebagaimana lembaga internasional lain, kendaraan kantor kami untuk dilarang bepergian setelah gelap. Untuk mempersingkat waktu kunjungan, saya memilih bepergian dengan L300 sehingga saya bisa langsung pulang ke Banda Aceh setelah acara di kabupaten selesai pada sore hari. Suatu malam, sopir yang membawa kami dari Kuala Simpang mengemudikan kendaraan dengan lambat. Di tengah perjalanan, mobil kemudian rusak. Saya ingin marah tapi saya perhatikan sopir tersebut begitu tua. Beliau tampak berusia sekitar 60 tahun, sopir L300 tertua yang pernah saya jumpai. Saat menunggu L300 pengganti, penumpang lain yang mengenalnya bercerita bahwa istri bapak tersebut lumpuh bertahun-tahun akibat stroke dan beliau harus terus mencari uang untuk biaya keluarganya. Informasi baru tersebut mengganti kemarahan saya dengan rasa kasihan. Hingga beberapa hari setelah itu, saya terus berdoa semoga bapak tersebut diberi kekuatan. L300 ternyata juga dapat menjadi sekolah untuk belajar empati.

Tempat Terindah dan Seragam di L300
Deretan bangku kedua, di belakang sopir, memiliki ruang lebih luas sehingga kaki kita sedikit lebih nyaman. Karenanya, bangku samping jendela deretan kedua adalah tempat terindah di L300. Bangku ini menjadi tempat favorit saya karena saya juga takut duduk di bangku depan di kendaraan yang melaju sangat kencang dan memiliki tingkat kecelakaan yang lumayan ini. Saya juga enggan duduk di bangku belakang karena terasa pengap dan penuh barang-barang. Duduk di sebelah jendela juga dapat mengurangi pengap akibat asap rokok.

Akhirnya, naik L300 menjadi ritual tersendiri bagi saya. Setelah menjadi anggota L300frequent flyer, saya akhirnya memilih seragam khusus saat naik L300: celana jeans, kaos almamater, dan sepatu gunung. Jadi, jika anda berada di Aceh dan melihat seorang lelaki memakai sepatu gunung, jeans, dan kaos biru gelap bertuliskan Penn State serta duduk di bangku samping jendela deretan kedua L300 sambil membaca buku maka itulah saya dan harap jangan ganggu saya. Saya sedang menikmati L300 moment! ***

Penulis : Ibnu Munzir 

Tidak ada komentar:
Write komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter