001-234-567-8910

5th Avenue Madson, NY758, USA

Get Update on our recent Gadgets & Tabs

Jumat, 25 Desember 2015

Diakah Pasangan Hidupku ?

Gambar: google.com
Menarik sekali, dalam Bahasa Indonesia, kata ”suami atau istri ”juga disebut dengan ”pasangan atau teman hidup.” Hal ini mengisyaratkan bahwa suami atau istri diharapkan dapat menjadi menjadi pasangan atau teman seumur hidup dalam segala sisi kehidupan. Pilihan terhadap pasangan pun diharapkan menjadi pilihan sekali seumur hidup. Karenanya, pertanyaan "Apa yang membuat kita mantap memilih seseorang sebagai pasangan kita?” menarik dan penting untuk kita diskusikan. Bukankah sering kita mendengar ungkapan "I have one but I'm not sure that s/he is the one?" Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang menikah dan pernikahannya berjalan dengan baik cenderung lebih bahagia dibanding mereka yang melajang. Sebaliknya, pasangan yang pernikahannya tidak berjalan dengan baik cenderung lebih menderita disbanding mereka yang melajang. Jadi, kualitas pernikahan dan bukannya status pernikahan itu sendiri yang lebih mempengaruhi kebahagiaan seseorang (Seligman, 2002).

Dua tahun lalu, ketika saya baru menikah, seorang teman kuliah bertanya apa yang membuat saya mantap memutuskan untuk memilih pasangan hidup saya. Pertanyaan tersebut saya lempar kembali ke mailing-list angkatan kami sembari berjanji untuk merangkumnya. Tulisan ini merupakan ringkasan dari tanggapan teman-teman saya yang begitu kaya dan beragam.

Rasanya cocok aja ….
Sebagian besar teman mengatakan bahwa mereka memilih pasangan mereka karena mereka merasa “pas atau cocok” dengan pasangannya. Kecocokan tersebut dapat dianalisa dari kesesuaian kepribadian, nilai, keluarga, serta pendapatan dan penampilan. (Hmmm, adakah di antara mereka yang memberikan baterai tes psikologi pada pasangannya?) Kecocokan tersebut juga dapat muncul dalam rasa nyaman saat bersama calon pasangan karena kita merasa dia dapat menerima kekurangan, kekonyolan, dan “kedodolan” kita. Bersama mereka kita tetap dapat merasa bebas menjadi diri kita sendiri, tidak takut kehilangan jati diri meskipun pasangan kita mungkin adalah orang yang sangat berbeda dengan diri kita.

Tidak sekedar merasa diterima, beberapa teman juga menyatakan bahwa mereka memilih pasangan mereka karena pasangan mereka mampu melihat potensi mereka dan mampu membantu mereka untuk berkembang, untuk menjadi lebih baik. Tidak hanya dalam prestasi duniawi, beberapa teman memilih pasangannya karena mereka yakin calon pasangannya dapat mendukung mereka untuk memiliki kehidupan spiritual yang lebih baik. Di sisi lain, seorang teman juga memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan calon-calonnya karena menurutnya mereka tidak memberikan cukup ruang bagi dirinya untuk menjadi “a fully functioning person”, tidak sekedar tersekat dalam ruang peran tradisional suami atau istri.

Akukah pasangan hidupnya?”
Hubungan pernikahan adalah hubungan timbal balik. Seorang teman menekankan bahwa kita tidak hanya cukup bertanya, “Bisakah dia menerima dan membantu diriku berkembang?” tapi juga “Bisakah aku menerima dan membantu dirinya untuk berkembang?” dalam derajat yang sama pentingnya. Hal ini mengingatkan pada pentingnya kesiapan psikologis sebagai prasyarat pernikahan. Menurut Bapak Rudolf Matindas (2006), seorang psikolog ibukota, kesiapan psikologis di antaranya mencakup kemampuan untuk mengenali kebutuhan pribadi dan kebutuhan pasangan. Kebutuhan ini dapat berupa kebutuhan sebagai seorang pribadi (individu) maupun kebutuhan yang ingin dipenuhi dalam pernikahan baik kebutuhan biologis, material atau psikologis. Kebutuhan psikologis dapat berupa kebutuhan ditemani, disayangi, dilindungi atau bahkan kebutuhan untuk mengatur orang lain. Kecocokan dapat berupa kemampuan untuk saling memenuhi kebutuhan tersebut. Di sisi lain, ketidakmampuan untuk saling memenuhi kebutuhan dapat menjadi sumber konflik berkepanjangan. Sayangnya, tidak ada orang yang dapat sepenuhnya memahami dan memenuhi kebutuhan orang lain (bahkan memahami dan memenuhi kebutuhan dirinya sendiri pun). Karenanya, menurut Bapak Matindas, kemauan dan kemampuan untuk berdialog, bernegoisasi, dan berkompromi termasuk dalam kesiapan psikologis yang mutlak adanya.

“Bagaimana kita bisa tahu cocok atau tidak?”
Bagi sebagian teman, kecocokan adalah sebuah penghayatan yang tidak mudah dijelaskan secara operasional, kongkrit, dan mendetil. Lalu, bagaimanakah mereka dapat mengenalinya? Sebagian besar teman menyatakan bahwa “Tanyalah hatimu, engkau akan tahu jawabannya.” Beberapa teman menyatakan bahwa rasa kecocokan itu tumbuh dan semakin kuat seiring dengan perjalanan hubungan mereka. Keyakinan itu menular. Karenanya, keyakinan (atau rayuan) salah satu pasangan bahwa mereka adalah pasangan yang tercipta sehidup semati sering mampu meneguhkan pasangan yang lain. Akan tetapi, kadang suara itu terdengar sayup-sayup sampai: bukannya tidak ada, tapi juga tidak terlalu kuat sehingga patut dipertanyakan. Selain itu, manusia juga tidak akan pernah bisa mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan dalam membuat keputusan, selalu ada ketidakpastian dan kemungkinan munculnya “kejutan”. Sebagian teman pun bertanya dan meminta peneguhan kepada Tuhan, “Diakah orangnya? Jika benar adanya, berilah kami kemudahan untuk bersatu.” Menarik untuk ditanyakan adakah diantara teman-teman alumni psikologi yang menjalani konseling pranikah untuk memantapkan keputusannya?

Antara Keputusan dan Pernikahan
Membuat keputusan bahwa seseorang adalah pasangan yang tepat dan menjalankan keputusan tersebut dengan menikahinya adalah dua hal yang berbeda. Bagi sebagian orang bahkan mungkin tidak berhubungan. Bukankah ada yang akhirnya tidak menikah ketika dua sejoli tersebut merasa bahwa mereka cocok secocok-cocoknya. Sebaliknya, bukankah banyak yang tetap menikah meskipun mereka merasa bahwa mereka tidak cocok. Seorang teman menyatakan bahwa untuk mewujudkan keputusan (kognitif dan emosional) menjadi kenyataan yang nyata dibutuhkan iman dan keberanian (baca: kenekatan).

Yang tidak terungkapkan tapi patut dipertimbangkan adalah kemungkinan faktor biologis sosial budaya yang membuat seseorang memutuskan segera menikah meski sebetulnya dia belum merasa bertemu dengan Mister atau Miss Right. Mungkinkah “jam” yang mulai berdetak (atau lebih tepatnya didetakkan oleh significant others di sekitar kita) sejak usia tertentu dan pertanyaan “Giliranmu kapan?” membuat seseorang merubah pertanyaan tentang calon pasangan dari “Siapa kamu?” atau “Siapa aku?” menjadi  pernyataan “Siapa saja!”  

Oh ya, dari tadi kita belum bicara tentang cinta. Dimanakah dirimu Cinta? Teman-teman yang sudah menikah umumnya menyatakan bahwa “love is necessary but not sufficient”,cinta perlu adanya untuk memulai pernikahan tapi tidak saja tidak cukup untuk menghidupkan pernikahan. National Geographic Pebruari 2006 membahas penelitian yang menunjukkan bahwa otak orang yang jatuh cinta romantis (atau eros, untuk membedakannya dengan jenis-jenis cinta lainnya) menghasilkan neurotransmitter yang juga dihasilkan oleh orang yang mengalami gangguan obsesif kompulsif (obsessive compulsive disorders). Orang yang mengalami obsesif kompulsif akan memikirkan (obsesi) atau melakukan (kompulsi) sesuatu yang tidak masuk akal secara terus menerus meski mereka sebetulnya terganggu dengan perilaku tersebut. Contohnya adalah orang yang selalu berpikir bahwa dirinya kotor sehingga terus menerus membasuh tangannya.

Nah, sampai tataran tertentu, jatuh cinta memang memiliki obsesi dan kompulsi sendiri. Eros memasok listrik yang begitu besar bagi prosesor otak kita untuk terus memikirkan dia yang tercinta. Eros juga memberi kekuatan luar biasa untuk melakukan hal yang luar binasa. Eros mampu meng-iya-kan segala tidak dan men-tidak-kan segala iya. Sayangnya, menurut National Geographic, neurotransmiter ini hanya bertahan selama beberapa tahun. Setelah itu, pecinta dan yang tercinta akan mulai kembali menjadi “manusia biasa” dengan segala ke-manusia-annya: aura merah jambu mulai berkurang dan kelakuan pasangan mulai menyebalkan. Mengutip Albert Camus, seorang penulis eksistensialis, jika cinta saja cukup maka segalanya akan terlalu mudah.

Seorang sahabat memberikan penjelasan yang menarik mengenai cinta dan pernikahan. Kata “love”, atau cinta dalam Bahasa Inggris, dapat berarti kata kerja (verb)  dan kata benda (noun). Nah, yang sering terjadi adalah love diterima sebagai kata benda yang akan bertahan selamanya padahal waktu berjalan, manusia (baca: suami dan istri) pun berubah. Dengan berbagai perubahan yang terjadi, sangat mungkin pasangan kembali saling mempertanyakan, "Diakah pasangan hidupku?" Karenanya, menurut sahabat saya, love perlu diperjuangkan seumur hidup sebagai tindakan aktif agar dapat terus tumbuh, matang, dan menghasilkan buah seiring dengan pertumbuhan dan kematangan pasangan.

Daftar Pustaka:
Matindas, R.W. (2006) Dinamika perkawinan beda agama. Makalah dipresentasikan pada Psychology Expo di Jakarta.

Seligman, M. E.P. (2002). Authentic Happiness: Using the new Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfillment.  NY: Barnes & Noble.

Slater, L. (February 2006). Love. National Geographic pp. 32-49.

ditulis oleh : ibnu Munzir 

Tidak ada komentar:
Write komentar

Hey, we've just launched a new custom color Blogger template. You'll like it - https://t.co/quGl87I2PZ
Join Our Newsletter